Dari Stigma ke Sinergi, Amabom Raya Nilai LDII Positif

Manado (19/1). Ketua Umum Aliansi Masyarakat Adat Bolaang Mongondow Raya (Amabom Raya), Jemmy Lantong, menyatakan LDII kini semakin terbuka dan mampu membangun sinergi positif dengan masyarakat adat di Bolaang Mongondow Raya. Pernyataan tersebut disampaikannya dalam forum bedah buku Nilai-Nilai Kebajikan Jamaah LDII: Dari Amal Saleh hingga Kemandirian di Swiss-Belhotel Manado.
Dalam dialog yang dihadiri tokoh adat, tokoh agama, akademisi, dan masyarakat, Jemmy mengungkapkan bahwa dirinya telah mengenal komunitas yang kini bernama LDII sejak puluhan tahun lalu, saat masih dikenal dengan sebutan Islam Sipatuo dan kerap diselimuti stigma negatif.
“Saya sudah mendengar tentang mereka sejak 45 tahun lalu. Bahkan tahun 2000 sawah saya berada di samping masjid LDII. Waktu itu stigma yang berkembang memang negatif,” ujarnya.
Namun, persepsi tersebut berubah setelah ia berinteraksi langsung dengan warga LDII, terutama melalui Nasrullah Shifa yang saat itu aktif di LDII Kotamobagu.
“Perilaku warga LDII yang saya lihat banyak terwakili oleh Nasrullah Shifa. Dia santun, cerdas, dan aktif dalam diskusi. Yang kami rasakan ternyata tidak seperti stigma di masyarakat,” katanya.
Menurut Jemmy, nilai kebersamaan yang diterapkan LDII justru memberikan inspirasi bagi komunitas adat. “Kebersamaan di LDII itu menginspirasi kami. Jiwa aktivis dan sikap kritis mereka sangat bagus,” tegasnya.
Ia juga menyebut dua tokoh muda LDII, Nasrullah Shifa dan Choir Mayyasya Rochmat, sebagai figur yang mampu menunjukkan bahwa LDII dapat hidup berdampingan secara harmonis dengan masyarakat adat.
“Mereka ini pejuang LDII yang memberi contoh bagaimana organisasi bisa diterima masyarakat,” ujarnya. Jemmy berharap hubungan baik yang telah terjalin antara Amabom Raya dan LDII terus diperkuat di masa mendatang.
“Amabom Raya siap bersinergi dengan LDII dalam menjaga adat dan keharmonisan masyarakat Bolmong Raya,” pungkasnya. Bedah buku ini menjadi ruang dialog terbuka yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat sekaligus memperkuat pemahaman lintas komunitas di Sulawesi Utara.
Oleh: Ridwan DK | S25RID | SULUT 3 (contributor) / Nisa Ulkhairiyah (editor)
Kunjungi berbagai website LDII
DPP, DPP, Bangkalan, Tanaroja, Gunung Kidul, Kotabaru, Bali, DIY, Jakpus, Jaksel, Jateng, Kudus, Semarang, Aceh, Babel, Balikpapan, Bandung, Banten, Banyuwangi, Batam, Batam, Bekasi, Bengkulu, Bontang, Cianjur, Clincing, Depok, Garut, Jabar, Jakarta, Jakbar, Jakut, Jambi, Jatim, Jayapura, Jember, Jepara, BEkasi, Blitar, Bogor, Cirebon, Kalbar, Kalsel, Kaltara, Kalteng, Karawang, Kediri, Kendari, Kepri, ogor, Bogor, Kutim, Lamongan, Lampung, Lamtim, Kaltim, Madiun, Magelang, Majaelngka, Maluku, Malut, Nabire, NTB, NTT, Pamekasan, Papua, Pabar, Pateng, Pemalang, Purbalingga, Purwokerto, Riau, Sampang, Sampit, Sidoarjo, Sukoharjo, Sulbar, Sulsel, Sultra, Sumbar, Sumsel, Sumut, Tanaban, Tangsel, Tanjung Jabung Barat, Tegal, Tulung Agung, Wonogiri, Minhaj, Nuansa, Sako SPN, Sleman, Tulang Bawang, Wali Barokah, Zoyazaneta, Sulteng
