Sharing Session Diaspora Cendekiawan LDII, Bangun Jejaring Global untuk Menguatkan Indonesia

Manokwari (21/1). DPP Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) menggelar seminar “Sharing Session Diaspora Cendekiawan LDII: Membangun Jejaring Global Menguatkan Indonesia”, secara hybrid, Minggu (26/10). Kegiatan ini dipusatkan di Kantor DPP LDII, Jakarta, dan diikuti sekitar 765 peserta yang terdiri dari pengurus dan warga LDII dari seluruh Indonesia serta beberapa negara sahabat.

Seminar dibuka dengan pengantar dari Ketua DPP LDII Singgih Tri Sulistyono. Ia menyampaikan bahwa diaspora LDII telah tersebar di lima benua. Meski berada di luar negeri, warga LDII diharapkan tetap memiliki jiwa nasionalisme serta mampu berkontribusi nyata bagi bangsa dan negara.

Sementara itu, Ketua Umum DPP LDII Chriswanto Santoso menegaskan bahwa globalisasi merupakan keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Menurutnya, warga LDII saat ini berada di berbagai negara, seperti Korea, Jepang, Australia, Amerika Serikat, dan negara-negara Eropa, yang menjadi potensi besar bagi Indonesia.

“China adalah salah satu negara dengan diaspora terbesar di dunia dan mampu memberikan kontribusi signifikan bagi negaranya, terutama di bidang teknologi. Hal ini bisa menjadi pembelajaran bagi Indonesia,” ujarnya.

Ketua LDII Papua Barat Suroto, yang mengikuti kegiatan sejak siang hingga menjelang dini hari, menyampaikan bahwa Indonesia juga termasuk negara dengan jumlah diaspora yang besar. Ia berharap diaspora Indonesia, termasuk warga LDII, dapat memberikan kontribusi positif bagi pembangunan bangsa.

Suroto menyatakan apresiasi dan rasa bangga atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai seminar ini sebagai langkah strategis DPP LDII dalam merespons dinamika global. Namun demikian, ia menekankan perlunya pembahasan lanjutan terkait berbagai tantangan yang dihadapi diaspora.

“Masih banyak hal yang perlu didiskusikan bersama, seperti bagaimana memperoleh informasi yang akurat bagi warga LDII di luar negeri. Mereka bukan tenaga kerja Indonesia, sehingga informasi yang diterima harus bersumber resmi dari pemerintah atau melalui skema government to government,” jelasnya.

Dalam sesi diskusi dan penutupan, sejumlah saran dan masukan disampaikan di hadapan ratusan peserta, di antaranya perlunya dukungan terhadap program magang bagi warga Indonesia di luar negeri, penyediaan rekomendasi beasiswa untuk menunjang pendidikan, serta wacana kuliah sambil menjalankan tugas dakwah dan pengajaran ilmu agama bagi warga Indonesia di luar negeri.

Selain itu, disoroti pula pentingnya evaluasi terhadap negara tujuan diaspora agar terhindar dari wilayah konflik, serta peningkatan pelatihan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, Arab, dan Mandarin, guna meningkatkan daya saing.

Suroto menambahkan bahwa pertemuan hybrid ini menjadi langkah awal yang baik dan diharapkan dapat ditindaklanjuti melalui pertemuan-pertemuan lanjutan yang lebih teknis dan aplikatif.

 

 

 

 

 

Oleh: Agus Irawan (contributor) / Riska Sabilah (editor)

Kunjungi berbagai website LDII

DPP, DPP, Bangkalan, Tanaroja, Gunung Kidul, Kotabaru, Bali, DIY, Jakpus, Jaksel, Jateng, Kudus, Semarang, Aceh, Babel, Balikpapan, Bandung, Banten, Banyuwangi, Batam, Batam, Bekasi, Bengkulu, Bontang, Cianjur, Clincing, Depok, Garut, Jabar, Jakarta, Jakbar, Jakut, Jambi, Jatim, Jayapura, Jember, Jepara, BEkasi, Blitar, Bogor, Cirebon, Kalbar, Kalsel, Kaltara, Kalteng, Karawang, Kediri, Kendari, Kepri, ogor, Bogor, Kutim, Lamongan, Lampung, Lamtim, Kaltim, Madiun, Magelang, Majaelngka, Maluku, Malut, Nabire, NTB, NTT, Pamekasan, Papua, Pabar, Pateng, Pemalang, Purbalingga, Purwokerto, Riau, Sampang, Sampit, Sidoarjo, Sukoharjo, Sulbar, Sulsel, Sultra, Sumbar, Sumsel, Sumut, Tanaban, Tangsel, Tanjung Jabung Barat, Tegal, Tulung Agung, Wonogiri, Minhaj, Nuansa, Sako SPN, Sleman, Tulang Bawang, Wali Barokah, Zoyazaneta, Sulteng

Leave a Reply

Your email address will not be published.