Pendalaman Qiroatusab’ah, LDII Banten Kumpulkan Pengajar Pondok Pesantren

——————–
Serang (30/1). Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Provinsi Banten kembali menggelar kegiatan pendalaman Qiroatusab’ah bagi para pengajar pondok pesantren dan ustaz LDII se-Banten. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Gedung LDII Banten, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang.
Qiroatusab’ah merupakan disiplin ilmu tentang cara membaca Al-Qur’an berdasarkan tujuh imam qiraat. Ilmu ini menjadi bagian penting dalam studi Al-Qur’an, namun belum banyak dipahami dan dikuasai secara mendalam oleh masyarakat umum. Oleh karena itu, DPW LDII Banten melalui Biro Pendidikan Keagamaan dan Dakwah (PKD) menginisiasi pendalaman materi Qiroatusab’ah sebagai upaya meningkatkan kompetensi para pengajar Al-Qur’an.
Penderesan Qiroatusab’ah dipimpin oleh Biro PKD DPW LDII Banten, Choirul Hadi. Ia menjelaskan bahwa Qiroatusab’ah tidak hanya menitikberatkan pada aspek pelafalan, tetapi juga penguasaan ilmu qiraat secara komprehensif.
“Ini bukan hanya tentang kemampuan melantunkan ayat, tetapi juga penguasaan ilmu qiraat yang mendalam, meliputi tujuh riwayat bacaan Al-Qur’an yang otentik,” jelas Choirul.
Kegiatan berlangsung khidmat dan sistematis. Acara diawali dengan sambutan dari Dewan Penasihat (Wanhat) DPW LDII Banten, dilanjutkan dengan penderesan materi mengenai definisi qiraat, ruang lingkup qiraat, serta pengenalan para imam qiraat dan rawi Qiroatusab’ah. Setelah itu, peserta mengikuti praktik membaca surah Al-Qur’an dengan berbagai versi bacaan tujuh imam qiraat yang dipandu langsung oleh Choirul Hadi.
Pembukaan kegiatan disampaikan oleh Wanhat LDII Banten Agung Haryo Ontoseno. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara al-as?lah atau keotentikan tradisi dan al-?ad?thah atau modernitas dalam pengembangan keilmuan Islam.
Menurutnya, kedua aspek tersebut tidak saling meniadakan, tetapi harus berinteraksi secara konstruktif agar praktik keilmuan Islam tetap relevan dengan tantangan zaman. “Dalam penderesan Qiroatusab’ah ini, kami mengajak peserta untuk bersemangat mendalami Qiroatusab’ah, seraya berharap forum ini menjadi momentum strategis dalam memperkuat kesinambungan tradisi keilmuan yang otentik dan aplikatif di era modern,” katanya.
Melalui kegiatan ini, Choirul Hadi berharap para guru Al-Qur’an dan hadis di lingkungan LDII Banten dapat memahami konsep Qiroatusab’ah secara teori sekaligus mampu mempraktikkannya dengan benar sesuai kaidah keilmuannya.
“Khususnya mampu membaca surah bacaan salat dari berbagai versi Tujuh Imam Qiraat yang lebih dikenal dengan Qiroatusab’ah,” ujarnya.
Ia menambahkan, hasil dari penderesan ini diharapkan dapat diimbaskan kepada para santri di masing-masing pondok pesantren naungan LDII Banten, sehingga pemahaman dan praktik Qiroatusab’ah dapat terus terjaga dan berkembang secara berkelanjutan.
Oleh: Bung Pream (contributor) / Riska Sabilah (editor)
Kunjungi berbagai website LDII
DPP, DPP, Bangkalan, Tanaroja, Gunung Kidul, Kotabaru, Bali, DIY, Jakpus, Jaksel, Jateng, Kudus, Semarang, Aceh, Babel, Balikpapan, Bandung, Banten, Banyuwangi, Batam, Batam, Bekasi, Bengkulu, Bontang, Cianjur, Clincing, Depok, Garut, Jabar, Jakarta, Jakbar, Jakut, Jambi, Jatim, Jayapura, Jember, Jepara, BEkasi, Blitar, Bogor, Cirebon, Kalbar, Kalsel, Kaltara, Kalteng, Karawang, Kediri, Kendari, Kepri, ogor, Bogor, Kutim, Lamongan, Lampung, Lamtim, Kaltim, Madiun, Magelang, Majaelngka, Maluku, Malut, Nabire, NTB, NTT, Pamekasan, Papua, Pabar, Pateng, Pemalang, Purbalingga, Purwokerto, Riau, Sampang, Sampit, Sidoarjo, Sukoharjo, Sulbar, Sulsel, Sultra, Sumbar, Sumsel, Sumut, Tanaban, Tangsel, Tanjung Jabung Barat, Tegal, Tulung Agung, Wonogiri, Minhaj, Nuansa, Sako SPN, Sleman, Tulang Bawang, Wali Barokah, Zoyazaneta, Sulteng, Kota Kediri
