Diskusi Nasionalisme dan Dakwah, LDII Sambangi STAIN Majene

Majene (4/2). Cendekiawan muda Nahdlatul Ulama (NU), Ahmad Ali MD, bersama jajaran Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) melakukan kunjungan akademik ke Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Majene, Senin (2/2). Kunjungan ini merupakan bagian dari riset penulisan buku “Nasionalisme dan Peran Dakwah LDII di Indonesia” yang mengkaji kontribusi ormas Islam dalam memperkuat persatuan bangsa dan nilai kebangsaan.
Ketua STAIN Majene, Wasilah, menyambut positif kunjungan tersebut dan menilai LDII sebagai mitra strategis dalam penguatan dakwah moderat dan berwawasan kebangsaan. “Kami mengenal LDII sebagai lembaga dakwah yang aktif membina umat dan berkontribusi nyata bagi kehidupan sosial kemasyarakatan. STAIN Majene terbuka untuk berkolaborasi, khususnya dalam penguatan moderasi beragama dan kecintaan terhadap tanah air,” ujarnya.
Dalam diskusi akademik, Ahmad Ali MD menegaskan bahwa nasionalisme dan dakwah merupakan dua hal yang saling menguatkan. “Dakwah yang sehat adalah dakwah yang menumbuhkan cinta tanah air, menjaga persatuan, dan memperkuat etika sosial. Praktik dakwah LDII menunjukkan bahwa nilai keislaman dapat berjalan seiring dengan komitmen kebangsaan dan NKRI,” tegasnya. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara ormas Islam dan perguruan tinggi dalam membangun narasi keislaman yang ilmiah dan mencerahkan di tengah tantangan global.
Sementara itu, Ketua DPD LDII Polewali Mandar Saifuddin berharap sinergi LDII dengan STAIN Majene dapat melahirkan kegiatan akademik dan sosial yang berdampak langsung bagi masyarakat. “Kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat karakter kebangsaan generasi muda,” katanya.
Kegiatan ini merupakan komitmen LDII dalam mengembangkan dakwah yang selaras dengan Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI. Kunjungan ditutup dengan penyerahan buku “Nilai-Nilai Kebajikan dalam Jamaah LDII”, kalender, dan Majalah Nuansa sebagai simbol silaturahmi dan komitmen bersama membangun dakwah yang berakar pada nilai keislaman dan kebangsaan.
Oleh: Shelynda Trifebriani Nursalam (contributor) / Nisa Ulkhairiyah (editor)
Kunjungi berbagai website LDII
DPP, DPP, Bangkalan, Tanaroja, Gunung Kidul, Kotabaru, Bali, DIY, Jakpus, Jaksel, Jateng, Kudus, Semarang, Aceh, Babel, Balikpapan, Bandung, Banten, Banyuwangi, Batam, Batam, Bekasi, Bengkulu, Bontang, Cianjur, Clincing, Depok, Garut, Jabar, Jakarta, Jakbar, Jakut, Jambi, Jatim, Jayapura, Jember, Jepara, BEkasi, Blitar, Bogor, Cirebon, Kalbar, Kalsel, Kaltara, Kalteng, Karawang, Kediri, Kendari, Kepri, ogor, Bogor, Kutim, Lamongan, Lampung, Lamtim, Kaltim, Madiun, Magelang, Majaelngka, Maluku, Malut, Nabire, NTB, NTT, Pamekasan, Papua, Pabar, Pateng, Pemalang, Purbalingga, Purwokerto, Riau, Sampang, Sampit, Sidoarjo, Sukoharjo, Sulbar, Sulsel, Sultra, Sumbar, Sumsel, Sumut, Tanaban, Tangsel, Tanjung Jabung Barat, Tegal, Tulung Agung, Wonogiri, Minhaj, Nuansa, Sako SPN, Sleman, Tulang Bawang, Wali Barokah, Zoyazaneta, Sulteng, Kota Kediri
