Dari Ketergantungan Menuju Kemandirian, Penguatan Generasi melalui Kepramukaan

SAKO SPN memberikan pelatihan Life Skill berbasis metode kepramukaan kepada para guru dan pembina di Pondok Pesantren Minhajurrosyidin. Foto: LINES.
Jakarta (19/2). Para ulama di lingkungan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) memberikan perhatian terhadap pembinaan generasi muda, termasuk penguatan kecakapan hidup.
Melalui Departemen Pemuda, Kepanduan, Olahraga, dan Seni Budaya (PKOSB), LDII membentuk Satuan Komunitas Pramuka Sekawan Persada Nusantara (SAKO SPN). Organisasi ini bertugas membina generasi muda melalui metode kepramukaan untuk meningkatkan kemandirian dan keterampilan hidup.
SAKO SPN merumuskan 11 kecakapan hidup (life skills), meliputi kemampuan memenuhi kebutuhan dasar, menjaga kesehatan dan kebersihan, memasak, merawat pakaian, mengelola keuangan, mengatur waktu, beradaptasi, menghargai orang lain, berkomunikasi efektif, berkolaborasi, serta memecahkan masalah. Rumusan tersebut telah dipresentasikan kepada pengurus LDII dan disetujui sebagai bagian dari pembinaan generasi muda.
Implementasi pelatihan life skill berbasis metode kepramukaan telah dilakukan di Pondok Pesantren Nurul Aini dan Pondok Pesantren Minhajurrosyidin. Kegiatan tersebut difokuskan pada pembiasaan praktik langsung dalam kehidupan sehari-hari santri.
Dalam pembinaan karakter, LDII juga memiliki pedoman 29 karakter luhur yang mencakup Tri Sukses (akhlakul karimah, alim dan faqih, mandiri), 6 tabiat luhur, 4 Tali Keimanan, 3 Prinsip Kerja, 4 Maqodirulloh (Qodarullah), 4 Roda Berputar, serta 5 Syarat Kerukunan dan Kekompakkan.
Di tingkat nasional, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah meluncurkan program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH). LDII mendukung program tersebut dan turut berkontribusi dalam penyusunan buku Modul Penguatan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat dalam Kegiatan Kepramukaan serta Kiat Jitu Implementasi 7 KAIH untuk Orang Tua dan Guru.
Metode kepramukaan digunakan sebagai sarana pembiasaan nilai dan keterampilan melalui praktik langsung di lapangan. Integrasi 29 karakter luhur, 11 life skill, dan 7 KAIH diharapkan menjadi bagian dari sistem pembinaan generasi muda di lingkungan LDII.
Pembinaan karakter melibatkan peran orang tua, sekolah, pondok pesantren, pembina pramuka, serta dukungan organisasi dan pemerintah dalam pelaksanaannya.
Nurul Ulya, utusan LDII, tengah mempresentasikan pengalaman dan praktik baik di lapangan di hadapan tim PUSPEKA Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dalam proses penyusunan Modul Penguatan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat dalam Kegiatan Kepramukaan. Foto: LINES.
Oleh: Diki Wahyu (contributor) / Nisa Ulkhairiyah (editor)
Kunjungi berbagai website LDII
DPP, DPP, Bangkalan, Tanaroja, Gunung Kidul, Kotabaru, Bali, DIY, Jakpus, Jaksel, Jateng, Kudus, Semarang, Aceh, Babel, Balikpapan, Bandung, Banten, Banyuwangi, Batam, Batam, Bekasi, Bengkulu, Bontang, Cianjur, Clincing, Depok, Garut, Jabar, Jakarta, Jakbar, Jakut, Jambi, Jatim, Jayapura, Jember, Jepara, BEkasi, Blitar, Bogor, Cirebon, Kalbar, Kalsel, Kaltara, Kalteng, Karawang, Kediri, Kendari, Kepri, ogor, Bogor, Kutim, Lamongan, Lampung, Lamtim, Kaltim, Madiun, Magelang, Majaelngka, Maluku, Malut, Nabire, NTB, NTT, Pamekasan, Papua, Pabar, Pateng, Pemalang, Purbalingga, Purwokerto, Riau, Sampang, Sampit, Sidoarjo, Sukoharjo, Sulbar, Sulsel, Sultra, Sumbar, Sumsel, Sumut, Tanaban, Tangsel, Tanjung Jabung Barat, Tegal, Tulung Agung, Wonogiri, Minhaj, Nuansa, Sako SPN, Sleman, Tulang Bawang, Wali Barokah, Zoyazaneta, Sulteng, Kota Kediri
