Meski Cuaca Cerah, Hilal 1 Ramadan 1447 H Tak Terlihat di Lamongan

Lamongan (22/2). Lembaga Falakiyah DPW LDII Jawa Timur menyatakan hilal penentu awal Ramadan 1447 Hijriah tidak terlihat dalam pengamatan yang dilakukan di Markaz Pantai Tanjung Kodok, Lamongan, Selasa (16/2) petang.

Ketua Lembaga Falakiyah DPW LDII Jawa Timur, Fajar Sidiq Rofikoh, mengatakan posisi hilal saat matahari terbenam berada di bawah ufuk sehingga tidak memungkinkan untuk teramati. Hasil rukyat tersebut telah dilaporkan kepada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lamongan. “Berdasarkan hasil pengamatan dan hisab, saat matahari terbenam posisi hilal sudah berada di bawah ufuk. Karena itu, hilal tidak mungkin terlihat,” ujarnya di Markaz Tanjung Kodok.

Ia menjelaskan, kondisi cuaca pada saat pengamatan relatif cerah meskipun terdapat sedikit awan di sekitar azimut terbenamnya matahari dan hilal. Namun, faktor cuaca tidak memengaruhi hasil pengamatan. “Secara hisab, hilal sudah berada di bawah ufuk sehingga secara teori tidak memungkinkan untuk dirukyat,” katanya.

Dalam rangka pengamatan tersebut, Lembaga Falakiyah LDII Jawa Timur mengerahkan 30 tim rukyat yang tersebar di 29 titik pengamatan resmi Kementerian Agama di seluruh wilayah Jawa Timur. Pengamatan dilakukan secara serentak sebagai bagian dari dukungan terhadap penentuan awal Ramadan.

Fajar menambahkan, hasil rukyat dari Markaz Tanjung Kodok akan diteruskan ke Kementerian Agama RI sebagai bahan pertimbangan dalam sidang isbat penetapan awal Ramadan 1447 H. “Keputusan final tetap menunggu sidang isbat di Jakarta yang mempertimbangkan laporan dari seluruh titik pemantauan di Indonesia,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa LDII akan mengikuti keputusan resmi pemerintah terkait penetapan awal Ramadan. “Kami dari LDII akan mengikuti apa pun keputusan pemerintah melalui sidang isbat Kementerian Agama,” kata Fajar.

Sementara itu, Ketua Badan Hisab Rukyat (BHR) Lamongan, Khoirul Anam, menyampaikan bahwa ijtimak atau konjungsi bulan terjadi pada Selasa (17/2) pukul 19.00 WIB. Saat matahari terbenam, posisi hilal masih berada di bawah ufuk dan belum memenuhi kriteria imkanur rukyat. “Tinggi hilal saat ghurub tercatat minus sekitar satu derajat dengan elongasi kurang dari dua derajat. Secara astronomis, kondisi tersebut menunjukkan hilal belum mungkin dirukyat,” ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, bulan Sya’ban 1447 Hijriah diperkirakan digenapkan menjadi 30 hari, sehingga 1 Ramadan 1447 H berpotensi jatuh pada Kamis Pahing, 19 Februari 2026. Namun, hasil tersebut belum merupakan penetapan resmi.

Umat Islam di Indonesia masih menunggu pengumuman pemerintah melalui sidang isbat untuk memastikan awal Ramadan 1447 Hijriah. (Sof/Wid)

Oleh: Sofyan Gani (contributor) / Nisa Ulkhairiyah (editor)

Kunjungi berbagai website LDII

DPP, DPP, Bangkalan, Tanaroja, Gunung Kidul, Kotabaru, Bali, DIY, Jakpus, Jaksel, Jateng, Kudus, Semarang, Aceh, Babel, Balikpapan, Bandung, Banten, Banyuwangi, Batam, Batam, Bekasi, Bengkulu, Bontang, Cianjur, Clincing, Depok, Garut, Jabar, Jakarta, Jakbar, Jakut, Jambi, Jatim, Jayapura, Jember, Jepara, BEkasi, Blitar, Bogor, Cirebon, Kalbar, Kalsel, Kaltara, Kalteng, Karawang, Kediri, Kendari, Kepri, ogor, Bogor, Kutim, Lamongan, Lampung, Lamtim, Kaltim, Madiun, Magelang, Majaelngka, Maluku, Malut, Nabire, NTB, NTT, Pamekasan, Papua, Pabar, Pateng, Pemalang, Purbalingga, Purwokerto, Riau, Sampang, Sampit, Sidoarjo, Sukoharjo, Sulbar, Sulsel, Sultra, Sumbar, Sumsel, Sumut, Tanaban, Tangsel, Tanjung Jabung Barat, Tegal, Tulung Agung, Wonogiri, Minhaj, Nuansa, Sako SPN, Sleman, Tulang Bawang, Wali Barokah, Zoyazaneta, Sulteng, Kota Kediri

Leave a Reply

Your email address will not be published.