LDII Sulsel Ikuti Rukyatul Hilal di Observatorium Unismuh

Makassar (24/2). Penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah di Kota Makassar diawali dengan pelaksanaan rukyatul hilal yang digelar di Observatorium Lantai 18 Menara Iqra Universitas Muhammadiyah Makassar, Jalan Sultan Alauddin, Kota Makassar, Selasa (17/2/2026) sore.
Kegiatan ini melibatkan berbagai unsur, di antaranya BMKG Wilayah IV Makassar, LDII Sulawesi Selatan, BMKG Gowa, perwakilan Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, serta sejumlah organisasi kemasyarakatan Islam seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan Wahdah Islamiyah. Turut hadir mahasiswa Ilmu Falak UIN Alauddin Makassar serta awak media nasional dan lokal.
Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua MUI Sulsel KH Nadjamuddin Abduh Shafa, Kepala Kanwil Kementerian Agama Sulawesi Selatan Ali Yafid, Ketua Badan Hisab Rukyat (BHR) Sulawesi Selatan Abbas Padil, Wakil Rektor IV Universitas Muhammadiyah Makassar, Ketua LDII Sulawesi Selatan Asdar Mattiro, serta Kepala Pengadilan Agama Makassar.
Plt Kepala BMKG Wilayah IV Makassar, Nasrol Adil menjelaskan bahwa berdasarkan hasil hisab dan pengamatan langsung, hilal di Makassar belum dapat terlihat. “Secara perhitungan, posisi bulan berada di minus 1 derajat 26,34 menit di bawah ufuk. Artinya, bulan belum berada di atas horizon sehingga secara astronomis tidak mungkin teramati,” ujarnya.
Data pengamatan menunjukkan matahari terbenam pukul 18.23.59 Wita, sementara bulan telah lebih dahulu tenggelam pada pukul 18.18.46 Wita. Elongasi tercatat 1,92 derajat dengan umur bulan minus 21 jam lebih. Nilai negatif tersebut menandakan kriteria imkanur rukyat belum terpenuhi.
Koordinator Bidang Observasi BMKG Wilayah IV Makassar, Jamroni menegaskan bahwa meski cuaca sempat cerah berawan, awan tebal di ufuk barat turut menjadi faktor penghalang visual. Namun secara hisab, hilal memang telah dinyatakan tidak mungkin terlihat. “Kita tetap melakukan rukyah sebagai bagian dari prosedur. Namun secara perhitungan nilainya negatif sehingga tidak dapat teramati,” jelasnya.
Ketua DPW LDII Sulawesi Selatan, Asdar Mattiro menyampaikan bahwa pihaknya bersyukur dapat dilibatkan dalam proses rukyatul hilal bersama pemerintah dan ormas Islam lainnya. “Hari ini telah dipastikan bahwa hilal di Makassar tidak terlihat. Kami bersyukur LDII turut dilibatkan dalam pengamatan ini sebagai bagian dari sinergi umat,” ujarnya.
Di lokasi pengamatan, empat teropong diarahkan ke ufuk barat. Dua unit milik BMKG, satu unit dipasang oleh LDII Sulsel, dan satu unit milik Wahdah Islamiyah. Tim pemantau juga memonitor layar laptop yang terhubung dengan perangkat optik untuk memastikan akurasi pengamatan.
Oleh: Ilmaddin Husain (contributor) / FF (editor)
Kunjungi berbagai website LDII
DPP, DPP, Bangkalan, Tanaroja, Gunung Kidul, Kotabaru, Bali, DIY, Jakpus, Jaksel, Jateng, Kudus, Semarang, Aceh, Babel, Balikpapan, Bandung, Banten, Banyuwangi, Batam, Batam, Bekasi, Bengkulu, Bontang, Cianjur, Clincing, Depok, Garut, Jabar, Jakarta, Jakbar, Jakut, Jambi, Jatim, Jayapura, Jember, Jepara, BEkasi, Blitar, Bogor, Cirebon, Kalbar, Kalsel, Kaltara, Kalteng, Karawang, Kediri, Kendari, Kepri, ogor, Bogor, Kutim, Lamongan, Lampung, Lamtim, Kaltim, Madiun, Magelang, Majaelngka, Maluku, Malut, Nabire, NTB, NTT, Pamekasan, Papua, Pabar, Pateng, Pemalang, Purbalingga, Purwokerto, Riau, Sampang, Sampit, Sidoarjo, Sukoharjo, Sulbar, Sulsel, Sultra, Sumbar, Sumsel, Sumut, Tanaban, Tangsel, Tanjung Jabung Barat, Tegal, Tulung Agung, Wonogiri, Minhaj, Nuansa, Sako SPN, Sleman, Tulang Bawang, Wali Barokah, Zoyazaneta, Sulteng, Kota Kediri
