Pelan-Pelan, Alim pun Terkikis

Sekayu (30/3). Di lingkungan pesantren, istilah alim bukan sekadar gelar bagi mereka yang hafal banyak kitab atau fasih berbahasa Arab. Alim adalah sosok yang ilmunya hidup—tercermin dalam adab, perilaku, serta kemampuan menjaga diri dari hal-hal yang dapat merusak nilai ilmu itu sendiri. Dalam tradisi pesantren, menjadi alim berarti tidak hanya mengetahui, tetapi juga tunduk pada ilmu yang dimiliki.

Namun, ada ironi yang kerap luput dari perhatian. Kealiman tidak selalu runtuh oleh kesalahan besar. Justru, ia sering terkikis oleh hal-hal kecil yang tampak sepele. Prosesnya perlahan, nyaris tak terasa—seperti rayap yang diam-diam merusak dari dalam.

Salah satu yang paling sering terjadi adalah kesibukan duniawi. Bukan berarti dunia harus ditinggalkan, tetapi ketika urusan dunia menyita terlalu banyak perhatian—baik itu bisnis, jabatan, maupun popularitas—ilmu kehilangan ruang untuk tumbuh. Seorang alim yang dulu akrab dengan kitab dan majelis ilmu perlahan mulai menjauh. Ilmu yang dahulu diasah setiap hari kini hanya disentuh sesekali.

Hal lain yang kerap menjadi beban adalah utang. Dalam kultur pesantren, utang bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan juga beban batin. Pikiran yang dipenuhi kekhawatiran tentang cicilan dan tagihan akan sulit mencapai ketenangan. Padahal, ketenangan adalah ruang hidup bagi ilmu. Tanpanya, proses belajar dan mengajar menjadi kehilangan kekhusyukan.

Selain itu, ada kecenderungan untuk memikirkan dan membahas hal di luar bidangnya. Ini bukan berarti seseorang tidak boleh belajar hal baru. Namun, ketika muncul dorongan untuk selalu berpendapat tentang segala hal, fokus pun menjadi tercerai-berai. Energi yang seharusnya digunakan untuk memperdalam ilmu justru terserap ke hal-hal yang bukan menjadi keahliannya. Akibatnya, ilmu yang dimiliki tidak lagi berkembang secara mendalam.

Yang paling halus sekaligus paling berbahaya adalah kesombongan. Perasaan “sudah cukup” dan enggan untuk terus belajar menjadi titik awal kemunduran. Dalam tradisi pesantren, senioritas memang dihormati, tetapi tidak pernah dijadikan alasan untuk berhenti menuntut ilmu. Ketika seseorang merasa sudah alim, saat itulah ilmu perlahan meninggalkannya. Sebab ilmu tidak akan menetap pada hati yang tertutup.

Lalu, bagaimana menjaga agar ilmu tetap hidup?

Jawaban klasik pesantren tetap relevan hingga hari ini: muthola’ah. Membaca ulang, mengkaji kembali, dan terus menghidupkan pelajaran dalam keseharian. Ilmu bukan sesuatu yang cukup disimpan, tetapi harus terus disentuh agar tidak pudar. Bahkan para ulama besar dikenal tidak pernah berhenti bermuthola’ah, seolah-olah mereka selalu merasa masih berada di awal perjalanan menuntut ilmu.

Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh distraksi, menjaga kealiman memang menjadi tantangan tersendiri. Namun, di situlah letak ujiannya. Apakah ilmu hanya menjadi identitas atau benar-benar dijaga sebagai amanah?

Pada akhirnya, yang menggerogoti kealiman bukanlah hal-hal besar yang tampak jelas, melainkan perkara kecil yang dibiarkan terus-menerus. Sebaliknya, yang menjaga ilmu tetap hidup pun bukan sesuatu yang spektakuler—melainkan kesetiaan pada hal-hal sederhana yang dilakukan tanpa henti.

Sekayu, 2 Syawal 1447 H
Daud Sobri
Ketua LDII Muba & Ponpes Taufiqurrohman Sungai Lilin

Oleh: Daud SOBRI (contributor) / Nisa Ulkhairiyah (editor)

Kunjungi berbagai website LDII

DPP, DPP, Bangkalan, Tanaroja, Gunung Kidul, Kotabaru, Bali, DIY, Jakpus, Jaksel, Jateng, Kudus, Semarang, Aceh, Babel, Balikpapan, Bandung, Banten, Banyuwangi, Batam, Batam, Bekasi, Bengkulu, Bontang, Cianjur, Clincing, Depok, Garut, Jabar, Jakarta, Jakbar, Jakut, Jambi, Jatim, Jayapura, Jember, Jepara, BEkasi, Blitar, Bogor, Cirebon, Kalbar, Kalsel, Kaltara, Kalteng, Karawang, Kediri, Kendari, Kepri, ogor, Bogor, Kutim, Lamongan, Lampung, Lamtim, Kaltim, Madiun, Magelang, Majaelngka, Maluku, Malut, Nabire, NTB, NTT, Pamekasan, Papua, Pabar, Pateng, Pemalang, Purbalingga, Purwokerto, Riau, Sampang, Sampit, Sidoarjo, Sukoharjo, Sulbar, Sulsel, Sultra, Sumbar, Sumsel, Sumut, Tanaban, Tangsel, Tanjung Jabung Barat, Tegal, Tulung Agung, Wonogiri, Minhaj, Nuansa, Sako SPN, Sleman, Tulang Bawang, Wali Barokah, Zoyazaneta, Sulteng, Kota Kediri

Leave a Reply

Your email address will not be published.