LDII Bengkulu Ikuti Rukyatul Hilal Bersama Kemenag dan BMKG untuk Penentuan 1 Syawal 1447 H

Bengkulu (3/4). Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Provinsi Bengkulu menurunkan tim rukyatul hilal dalam rangka pemantauan penentuan 1 Syawal 1447 Hijriah bersama Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bengkulu dan BMKG Bengkulu. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Pantai Pasir Putih, Gora Beach Club, kawasan Pantai Panjang, Bengkulu, pada Kamis (19/3).

Kegiatan rukyatul hilal ini juga diikuti oleh berbagai unsur organisasi kemasyarakatan Islam, akademisi, serta lembaga terkait bidang astronomi, sebagai bagian dari proses pengumpulan data sebelum pemerintah menetapkan awal bulan Syawal melalui sidang isbat. Sekretaris DPW LDII Bengkulu yang juga tergabung dalam tim rukyatul hilal, Erik Rahman Hidayat, menyampaikan, dalam beberapa tahun terakhir DPW LDII Bengkulu rutin dilibatkan dalam kegiatan rukyatul hilal bersama Kementerian Agama.

Ia menjelaskan bahwa tim rukyatul hilal LDII telah mendapatkan pembekalan dan pelatihan dari tim rukyatul hilal DPP LDII sehingga mampu mengikuti proses pengamatan secara teknis dan ilmiah. Menurutnya, masyarakat Bengkulu selama ini sudah terbiasa menyikapi adanya perbedaan dalam penetapan 1 Syawal dengan sikap dewasa dan penuh toleransi. “Perbedaan penetapan 1 Syawal bukan sesuatu yang harus dipertentangkan. Justru hal ini menunjukkan bahwa umat Islam memiliki kekayaan metode dalam menentukan awal bulan Hijriah,” ujar Erik.

Ia menambahkan, yang lebih penting adalah menjadikan momentum Idul Fitri sebagai sarana untuk memperkuat persaudaraan dan menjaga kedamaian di tengah masyarakat. “LDII mengajak seluruh umat Islam di Bengkulu untuk tetap menjaga suasana yang damai, saling menghormati, serta menjadikan perbedaan sebagai bagian dari keindahan dalam kehidupan beragama,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Biro Teknologi Informasi, Aplikasi, dan Telematika (TIAT) DPW LDII Bengkulu menyampaikan bahwa berdasarkan hasil pengamatan, posisi hilal di Kota Bengkulu berada pada ketinggian 2,251 derajat dengan elongasi 5,02 derajat. Nilai tersebut masih berada di bawah kriteria yang ditetapkan oleh Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), yaitu tinggi minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat. “Hasil pengamatan hingga menjelang matahari terbenam menunjukkan ketinggian hilal sekitar 2,2 derajat, sehingga belum memenuhi kriteria imkan rukyat,” ujarnya.

Sidang isbat menjadi forum resmi pemerintah dalam menetapkan Hari Raya Idul Fitri di Indonesia. Meskipun sempat muncul prediksi Lebaran jatuh pada 20 Maret 2026, pemerintah melalui Menteri Agama telah menetapkan bahwa 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Perbedaan penetapan hari raya merupakan hal yang wajar dalam kehidupan umat Islam. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan dapat menyikapinya dengan bijak serta tetap menjaga persatuan dan kerukunan.

 

Oleh: S09TRI.Bengkulu9 (contributor) / FF (editor)

Kunjungi berbagai website LDII

DPP, DPP, Bangkalan, Tanaroja, Gunung Kidul, Kotabaru, Bali, DIY, Jakpus, Jaksel, Jateng, Kudus, Semarang, Aceh, Babel, Balikpapan, Bandung, Banten, Banyuwangi, Batam, Batam, Bekasi, Bengkulu, Bontang, Cianjur, Clincing, Depok, Garut, Jabar, Jakarta, Jakbar, Jakut, Jambi, Jatim, Jayapura, Jember, Jepara, BEkasi, Blitar, Bogor, Cirebon, Kalbar, Kalsel, Kaltara, Kalteng, Karawang, Kediri, Kendari, Kepri, ogor, Bogor, Kutim, Lamongan, Lampung, Lamtim, Kaltim, Madiun, Magelang, Majaelngka, Maluku, Malut, Nabire, NTB, NTT, Pamekasan, Papua, Pabar, Pateng, Pemalang, Purbalingga, Purwokerto, Riau, Sampang, Sampit, Sidoarjo, Sukoharjo, Sulbar, Sulsel, Sultra, Sumbar, Sumsel, Sumut, Tanaban, Tangsel, Tanjung Jabung Barat, Tegal, Tulung Agung, Wonogiri, Minhaj, Nuansa, Sako SPN, Sleman, Tulang Bawang, Wali Barokah, Zoyazaneta, Sulteng, Kota Kediri

Leave a Reply

Your email address will not be published.