Festival Santri Soleh 2026, Ajang Santri Malang Kembangkan Prestasi dan Kreativitas

Malang (29/4). PPM Al-Kautsar dan PPM Baitul Jannah menggelar Festival Santri Soleh (FSS) 2026 di Rest Area dan Pusat Oleh-Oleh HC Putra, Kota Batu, pada Jumat (25/4). Kegiatan tahunan ini diikuti 146 santri dari kedua pondok pesantren sebagai ajang pengembangan karakter religius sekaligus profesional.

Mengusung tema “Santri Berkompetisi Meneguhkan Karakter Islam dan Mewujudkan Prestasi sebagai Pilar Generasi Unggul”, FSS 2026 menghadirkan berbagai perlombaan yang bertujuan meningkatkan keterampilan santri. Cabang lomba yang digelar meliputi da’i, tahfidz, cerdas cermat, makna Al-Qur’an, hingga video profil ma’had.

FSS yang telah diselenggarakan sejak 2013 ini menghadirkan inovasi baru pada tahun 2026 dengan menambahkan dua cabang lomba, yakni debat bahasa Indonesia dan Business Model Canvas. Pengurus PPM Baitul Jannah, Usman Az-Zakky, menjelaskan bahwa kedua lomba tersebut mendorong kemampuan berpikir kritis dan kreatif santri. “Kedua lomba ini memiliki nilai kompetitif dan melatih cara berpikir kritis yang dapat diterapkan di dunia nyata,” ujarnya.

Senada dengan itu, kontingen debat PPM Al-Kautsar, Darmawansyah Yudhistira, menyebut ajang ini menjadi ruang bagi santri untuk mengembangkan gagasan. “Di sini kami tidak hanya berkompetisi, tetapi juga mengasah pemikiran dalam ranah akademis,” katanya.

Salah satu peserta lomba da’i dari PPM Baitul Jannah, Febriana Nurdaningrum, berhasil meraih juara dua. Ia mengungkapkan persiapannya dilakukan dalam waktu singkat. “Saya hanya memiliki lima hari untuk mempersiapkan materi. Waktu tersebut saya optimalkan agar isi yang disampaikan benar-benar berbobot dan mudah dipahami,” tuturnya.

Pada akhir kegiatan, PPM Baitul Jannah berhasil keluar sebagai juara umum. Kegiatan ini diharapkan mampu memberikan dampak positif dalam menggali bakat, meningkatkan potensi, serta mengembangkan pola pikir kreatif para santri.

Selain itu, ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama FSS diharapkan dapat diterapkan di lingkungan pondok pesantren masing-masing maupun di tengah masyarakat.

 

 

Oleh: Aldin Arma Nasrillah (contributor) / Dita Rahmatia (editor)

Kunjungi berbagai website LDII

DPP, DPP, Bangkalan, Tanaroja, Gunung Kidul, Kotabaru, Bali, DIY, Jakpus, Jaksel, Jateng, Kudus, Semarang, Aceh, Babel, Balikpapan, Bandung, Banten, Banyuwangi, Batam, Batam, Bekasi, Bengkulu, Bontang, Cianjur, Clincing, Depok, Garut, Jabar, Jakarta, Jakbar, Jakut, Jambi, Jatim, Jayapura, Jember, Jepara, BEkasi, Blitar, Bogor, Cirebon, Kalbar, Kalsel, Kaltara, Kalteng, Karawang, Kediri, Kendari, Kepri, ogor, Bogor, Kutim, Lamongan, Lampung, Lamtim, Kaltim, Madiun, Magelang, Majaelngka, Maluku, Malut, Nabire, NTB, NTT, Pamekasan, Papua, Pabar, Pateng, Pemalang, Purbalingga, Purwokerto, Riau, Sampang, Sampit, Sidoarjo, Sukoharjo, Sulbar, Sulsel, Sultra, Sumbar, Sumsel, Sumut, Tanaban, Tangsel, Tanjung Jabung Barat, Tegal, Tulung Agung, Wonogiri, Minhaj, Nuansa, Sako SPN, Sleman, Tulang Bawang, Wali Barokah, Zoyazaneta, Sulteng, Kota Kediri

Leave a Reply

Your email address will not be published.