Buku Sistem Pendidikan LDII Paparkan Pola Pembinaan Berbasis 29 Karakter Luhur

Surabaya (20/5). Buku karya Ahmad Ali MD tentang sistem pendidikan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) dibedah dalam diskusi di UIN Sunan Ampel Surabaya, Minggu (10/5). Kegiatan tersebut membahas pola pendidikan LDII yang disebut terstruktur, sistematis, dan diterapkan secara nasional.
Dalam diskusi itu, Ahmad Ali MD menjelaskan bahwa bukunya memuat gambaran mengenai sistem pendidikan LDII, termasuk pola pembinaan berbasis 29 karakter luhur. “Belajar itu bisa dari mana saja. Dengan belajar, kita akan mengetahui, dan dengan mengetahui kita bisa menghindarkan kesalahpahaman dan permusuhan,” ujarnya.
Ia mengatakan, buku tersebut disusun untuk memberikan gambaran mengenai sistem pendidikan LDII kepada masyarakat. Menurutnya, ketidaktahuan terhadap suatu kelompok dapat memunculkan kesalahpahaman. “Ketidaktahuan tentang LDII, termasuk sistem pendidikannya, bisa menjadi faktor munculnya kebencian. Karena itu, siapapun harus terus berusaha belajar,” katanya.
Dalam paparannya, Ahmad Ali menyebut sistem pendidikan LDII memiliki pola yang seragam di berbagai daerah dan dibingkai dalam konsep 29 karakter luhur. “Intinya, sistem pemahaman itu dibingkai dalam 29 karakter luhur yang diharapkan membentuk generasi LDII yang profesional,” ujarnya.
Ia menambahkan, bukunya fokus pada pemetaan sistem pendidikan dan kurikulum LDII, bukan pada hasil akhir lulusan. “Yang dikaji dalam buku ini adalah bagaimana sistem pendidikan dan kurikulumnya mengarahkan peserta didik menjadi profesional. Adapun hasil akhirnya, itu perlu riset tersendiri,” katanya.
Sementara itu, Ketua DPW LDII Jawa Timur, Moch Amrodji Konawi, menyampaikan apresiasi atas terbitnya buku tersebut. Menurutnya, kajian yang dilakukan penulis berasal dari pengamatan pihak luar organisasi. “Saya merasa bersyukur dan berterima kasih karena hasil riset ini dibukukan. Ini menjadi kajian yang fair karena dilakukan oleh pihak luar,” ujarnya.
Ia berharap buku tersebut dapat menambah pemahaman masyarakat mengenai LDII dan memperkuat hubungan antarorganisasi kemasyarakatan Islam. “Kalau kita bisa saling mengenal, memahami, dan bekerja sama, maka pada akhirnya bisa saling menguatkan,” katanya.
Oleh: Sofyan Gani (contributor) / Nisa Ulkhairiyah (editor)
Kunjungi berbagai website LDII
DPP, DPP, Bangkalan, Tanaroja, Gunung Kidul, Kotabaru, Bali, DIY, Jakpus, Jaksel, Jateng, Kudus, Semarang, Aceh, Babel, Balikpapan, Bandung, Banten, Banyuwangi, Batam, Batam, Bekasi, Bengkulu, Bontang, Cianjur, Clincing, Depok, Garut, Jabar, Jakarta, Jakbar, Jakut, Jambi, Jatim, Jayapura, Jember, Jepara, BEkasi, Blitar, Bogor, Cirebon, Kalbar, Kalsel, Kaltara, Kalteng, Karawang, Kediri, Kendari, Kepri, ogor, Bogor, Kutim, Lamongan, Lampung, Lamtim, Kaltim, Madiun, Magelang, Majaelngka, Maluku, Malut, Nabire, NTB, NTT, Pamekasan, Papua, Pabar, Pateng, Pemalang, Purbalingga, Purwokerto, Riau, Sampang, Sampit, Sidoarjo, Sukoharjo, Sulbar, Sulsel, Sultra, Sumbar, Sumsel, Sumut, Tanaban, Tangsel, Tanjung Jabung Barat, Tegal, Tulung Agung, Wonogiri, Minhaj, Nuansa, Sako SPN, Sleman, Tulang Bawang, Wali Barokah, Zoyazaneta, Sulteng, Kota Kediri

