Jelang Munas X, Ketua Umum LDII Sampaikan Agenda Strategis di Sulsel

Maros (1/1). Pengurus Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Sulawesi Selatan menjemput Ketua Umum DPP LDII, KH Chriswanto Santoso, di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Kabupaten Maros, Kamis (25/12) malam. Penjemputan dipimpin langsung Ketua DPW LDII Sulawesi Selatan Asdar Mattiro bersama jajaran pengurus harian.
Dalam sesi wawancara, KH Chriswanto Santoso menegaskan bahwa Munas X LDII tidak sekadar agenda rutin lima tahunan, melainkan momentum evaluasi menyeluruh terhadap kinerja organisasi. Ia menyebut evaluasi pada Munas mendatang akan dilakukan secara lebih terbuka dengan melibatkan pandangan eksternal, termasuk media. “Evaluasi organisasi itu wajib. Kali ini kami ingin evaluasi yang lebih terbuka, tidak hanya dari internal, tetapi juga dari pihak luar, khususnya media, agar kami mendapat masukan yang objektif dan konstruktif,” ujarnya.
Hasil evaluasi tersebut, lanjut Chriswanto, akan menjadi dasar penyusunan program kerja LDII 2026 agar lebih membumi dan realistis. Ia memaparkan lima prinsip utama penyusunan program kerja, yakni meningkatkan kualitas hidup masyarakat, bersinergi dengan program pemerintah khususnya Asta Cita Presiden RI, realistis sesuai kemampuan organisasi, membangun kolaborasi lintas pihak, serta berorientasi pada kemanfaatan bagi masyarakat luas. “Kami berpegang pada prinsip khairunnas anfa’uhum linnas, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama,” tegasnya.
Isu lingkungan hidup menjadi salah satu fokus utama LDII ke depan melalui penguatan dakwah ekologis. Chriswanto menuturkan bahwa kepedulian lingkungan telah lama menjadi bagian dari gerakan LDII, termasuk dalam penanganan bencana alam. Menurutnya, bantuan kebencanaan tidak cukup hanya pada masa tanggap darurat, tetapi harus berkelanjutan hingga pascabencana. “Dampak bencana itu jangka panjang. Bukan hanya soal makanan, tetapi juga kehilangan rumah, pekerjaan, dan masa depan. Karena itu, bantuan harus berkesinambungan,” jelasnya.
Selain lingkungan, LDII juga memberi perhatian besar pada ketahanan pangan nasional. Chriswanto mencontohkan pengembangan sorgum bersertifikat oleh LDII yang telah mendapat pengakuan Kementerian Pertanian dan disalurkan ke berbagai daerah sebagai upaya mendorong kemandirian pangan. “Selama ini sektor pangan masih banyak bergantung pada pihak luar. Sorgum menjadi salah satu solusi untuk memperkuat ketahanan pangan nasional,” ujarnya.
Menutup keterangannya, Chriswanto menegaskan bahwa program kerja LDII 2026 tetap mengacu pada delapan klaster pengabdian LDII, yakni kebangsaan, keagamaan, pendidikan, kesehatan, ekonomi syariah, ketahanan pangan dan lingkungan hidup, energi baru terbarukan, serta teknologi digital. Empat klaster pertama wajib dilaksanakan di seluruh daerah, sementara empat klaster lainnya disesuaikan dengan potensi masing-masing wilayah. “Saya melihat Sulawesi Selatan memiliki potensi besar. SDM-nya kuat, akademisinya banyak, sehingga hampir seluruh klaster bisa dijalankan di sini,” pungkasnya.
Sebagai bentuk penghormatan kearifan lokal, Asdar Mattiro memakaikan songkok recca kepada Ketua Umum DPP LDII. Kedatangan Chriswanto Santoso merupakan bagian dari rangkaian agenda konsolidasi organisasi LDII se-Sulawesi Selatan yang digelar pada 26–28 Desember 2025 di Kabupaten Luwu, sekaligus momentum penyampaian arah strategis LDII menjelang Musyawarah Nasional (Munas) X LDII yang direncanakan berlangsung pada April 2026.
Oleh: LDII SULSEL (contributor) / Nisa Ulkhairiyah (editor)
Kunjungi berbagai website LDII
DPP, DPP, Bangkalan, Tanaroja, Gunung Kidul, Kotabaru, Bali, DIY, Jakpus, Jaksel, Jateng, Kudus, Semarang, Aceh, Babel, Balikpapan, Bandung, Banten, Banyuwangi, Batam, Batam, Bekasi, Bengkulu, Bontang, Cianjur, Clincing, Depok, Garut, Jabar, Jakarta, Jakbar, Jakut, Jambi, Jatim, Jayapura, Jember, Jepara, BEkasi, Blitar, Bogor, Cirebon, Kalbar, Kalsel, Kaltara, Kalteng, Karawang, Kediri, Kendari, Kepri, ogor, Bogor, Kutim, Lamongan, Lampung, Lamtim, Kaltim, Madiun, Magelang, Majaelngka, Maluku, Malut, Nabire, NTB, NTT, Pamekasan, Papua, Pabar, Pateng, Pemalang, Purbalingga, Purwokerto, Riau, Sampang, Sampit, Sidoarjo, Sukoharjo, Sulbar, Sulsel, Sultra, Sumbar, Sumsel, Sumut, Tanaban, Tangsel, Tanjung Jabung Barat, Tegal, Tulung Agung, Wonogiri, Minhaj, Nuansa, Sako SPN, Sleman, Tulang Bawang, Wali Barokah, Zoyazaneta, Sulteng
