Konsolidasi Rukyatul Hilal LDII se-Indonesia Menjelang Ramadan 1447 H

Serang (13/2). Untuk menyukseskan penentuan awal Ramadan 1447 H/2026 M, DPW LDII Banten mengikuti konsolidasi rukyatul hilal nasional yang diselenggarakan Biro Pendidikan Keagamaan dan Dakwah (PKD) DPP LDII. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara hybrid, daring dan luring, pada Selasa (10/2).
Secara luring, kegiatan dipusatkan di Pondok Pesantren Minhaajurrosyidin, Jakarta, sementara peserta dari DPW LDII se-Indonesia mengikuti secara daring melalui Zoom Meeting.
Ketua Departemen Pendidikan Keagamaan dan Dakwah (PKD) DPP LDII, Aceng Karimullah, menjelaskan bahwa dalam penetapan awal Ramadan digunakan dua metode, yakni hisab dan rukyat. Hisab merupakan metode perhitungan astronomi untuk menentukan posisi bulan secara matematis, sedangkan rukyat dilakukan melalui pengamatan langsung terhadap hilal.
“Berdasarkan metode hisab saat matahari terbenam, bulan sudah di atas ufuk. Jika berpegang pada metode hisab maka malam ini sudah masuk 1 Ramadan. Namun, berdasarkan metode rukyat, keputusan baru bisa diambil jika hilal benar-benar terlihat. Kemungkinan besar hilal dapat diamati dari Banda Aceh dan Sabang,” paparnya.
Sementara itu, Koordinator Tim Rukyatul Hilal DPP LDII, Wilnan Fatahillah, menegaskan bahwa penggunaan dua metode tersebut merupakan bentuk kehati-hatian dalam penentuan awal bulan Hijriah.
“Kami menggunakan dua metode ini sesuai dengan keputusan Komisi Fatwa MUI No. 2 Tahun 2004 yang menyatakan bahwa penentuan awal bulan Ramadan, Syawal, dan Zulhijah harus menggunakan rukyat dan hisab. Keduanya memiliki landasan dalil,” ujar Wilnan.
Ia juga mengajak umat Islam untuk tetap menjaga persatuan dalam menyambut bulan suci Ramadan meskipun terdapat perbedaan metode dalam penetapan awal Ramadan. “Kita harus tetap toleran terhadap perbedaan metode dan menjalankan ibadah dengan penuh kekhusyukan,” tutupnya.
Dalam proses pengamatan hilal, LDII turut berpartisipasi dengan mengerahkan tim pemantau di 82 titik yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Langkah tersebut dilakukan guna memperoleh hasil rukyatul hilal yang lebih akurat dan mendukung penentuan awal Ramadan secara komprehensif.
“Kami berkomitmen menyelaraskan metode ilmiah dengan aspek keagamaan, serta memperkuat kebersamaan dalam menentukan awal Ramadan,” pungkas Wilnan.
Oleh: Bung Pream (contributor) / Riska Sabilah (editor)
Kunjungi berbagai website LDII
DPP, DPP, Bangkalan, Tanaroja, Gunung Kidul, Kotabaru, Bali, DIY, Jakpus, Jaksel, Jateng, Kudus, Semarang, Aceh, Babel, Balikpapan, Bandung, Banten, Banyuwangi, Batam, Batam, Bekasi, Bengkulu, Bontang, Cianjur, Clincing, Depok, Garut, Jabar, Jakarta, Jakbar, Jakut, Jambi, Jatim, Jayapura, Jember, Jepara, BEkasi, Blitar, Bogor, Cirebon, Kalbar, Kalsel, Kaltara, Kalteng, Karawang, Kediri, Kendari, Kepri, ogor, Bogor, Kutim, Lamongan, Lampung, Lamtim, Kaltim, Madiun, Magelang, Majaelngka, Maluku, Malut, Nabire, NTB, NTT, Pamekasan, Papua, Pabar, Pateng, Pemalang, Purbalingga, Purwokerto, Riau, Sampang, Sampit, Sidoarjo, Sukoharjo, Sulbar, Sulsel, Sultra, Sumbar, Sumsel, Sumut, Tanaban, Tangsel, Tanjung Jabung Barat, Tegal, Tulung Agung, Wonogiri, Minhaj, Nuansa, Sako SPN, Sleman, Tulang Bawang, Wali Barokah, Zoyazaneta, Sulteng, Kota Kediri
