LDII Lampung Teguhkan Komitmen Kebangsaan dalam Sarasehan Road to Munas X 2026

Bandar Lampung (31/12). Jajaran pengurus Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Provinsi Lampung mengikuti Sarasehan Kebangsaan yang diselenggarakan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) LDII dalam rangkaian Road to Munas X LDII Tahun 2026. Kegiatan bertema “Nasionalisme Berkeadaban: Merawat Pancasila, Meneguhkan Islam Wasathiyah, Membangun Indonesia Berkeadilan” ini dipusatkan di Kantor DPP LDII, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (16/12), dan dilaksanakan secara hybrid.
Ketua Panitia Sarasehan Singgih Tri Sulistyono, yang juga Ketua DPP LDII, menegaskan pentingnya sarasehan sebagai ruang dialog kebangsaan untuk memperkuat persatuan nasional di tengah keberagaman. “Perbedaan tidak boleh dipertentangkan, melainkan dirawat sebagai kekuatan bangsa. Forum ini diharapkan melahirkan cara pandang berkeadaban dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujar Singgih.
Sarasehan menghadirkan dua narasumber nasional. Yudi Latif menekankan nasionalisme berkeadaban sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara, sementara Marzuki Al Jawi dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengulas konsep Islam Wasathiyah atau Islam moderat. “Agama harus menjadi penyelamat dari kegersangan kehidupan. Dakwah hendaknya dilakukan dengan cara merangkul, bukan memukul; mengajak, bukan mengejek,” tegasnya.
Wakil Ketua DPW LDII Lampung, Heri Sensustadi, menyatakan bahwa keikutsertaan DPW Lampung dalam sarasehan ini merupakan bagian dari upaya organisasi merawat nilai-nilai kebangsaan. “Sarasehan Kebangsaan ini menjadi penguatan bagi kami di daerah untuk meneguhkan komitmen kebangsaan. Nilai Pancasila dan Islam Wasathiyah harus berjalan seiring dan diwujudkan dalam sikap serta kontribusi nyata di tengah masyarakat,” ujarnya.
DPP LDII berharap melalui sarasehan ini, seluruh pengurus LDII di tingkat pusat dan daerah dapat terus memperkuat komitmen kebangsaan, menjaga persatuan nasional, dan menghadirkan wajah Islam yang damai, moderat, dan berkeadaban dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Oleh: Ahmat Nurdin (contributor) / Nisa Ulkhairiyah (editor)
Kunjungi berbagai website LDII
DPP, DPP, Bangkalan, Tanaroja, Gunung Kidul, Kotabaru, Bali, DIY, Jakpus, Jaksel, Jateng, Kudus, Semarang, Aceh, Babel, Balikpapan, Bandung, Banten, Banyuwangi, Batam, Batam, Bekasi, Bengkulu, Bontang, Cianjur, Clincing, Depok, Garut, Jabar, Jakarta, Jakbar, Jakut, Jambi, Jatim, Jayapura, Jember, Jepara, BEkasi, Blitar, Bogor, Cirebon, Kalbar, Kalsel, Kaltara, Kalteng, Karawang, Kediri, Kendari, Kepri, ogor, Bogor, Kutim, Lamongan, Lampung, Lamtim, Kaltim, Madiun, Magelang, Majaelngka, Maluku, Malut, Nabire, NTB, NTT, Pamekasan, Papua, Pabar, Pateng, Pemalang, Purbalingga, Purwokerto, Riau, Sampang, Sampit, Sidoarjo, Sukoharjo, Sulbar, Sulsel, Sultra, Sumbar, Sumsel, Sumut, Tanaban, Tangsel, Tanjung Jabung Barat, Tegal, Tulung Agung, Wonogiri, Minhaj, Nuansa, Sako SPN, Sleman, Tulang Bawang, Wali Barokah, Zoyazaneta, Sulteng
