LDII Pasuruan Ikuti Rukyatul Hilal Penetapan Awal Ramadan 1447 H

Pasuruan (24/2). LDII Kabupaten Pasuruan mengikuti kegiatan rukyatul hilal yang digelar di lingkungan MAN Insan Cendekia Pasuruan, Selasa (17/2). Kegiatan tersebut dilaksanakan untuk menentukan awal Ramadhan 1447 Hijriah.
Rukyatul hilal melibatkan Kementerian Agama Kabupaten Pasuruan, para ahli falak, serta perwakilan organisasi kemasyarakatan Islam, di antaranya Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan LDII Kabupaten Pasuruan. Dari hasil pemantauan saat matahari terbenam, hilal dilaporkan belum terlihat.
Ketua DPD LDII Kabupaten Pasuruan, Andik Dwi Susanto, menyampaikan bahwa keikutsertaan LDII dalam rukyatul hilal merupakan bentuk dukungan terhadap keputusan pemerintah dalam penetapan awal Ramadhan.
“Kami mendukung sepenuhnya hasil Sidang Isbat yang telah ditetapkan pemerintah. Partisipasi dalam rukyatul hilal ini juga menjadi bagian dari komitmen kami untuk menjaga kebersamaan dan persatuan umat Islam,” ujarnya.
Laporan hasil pemantauan dari Pasuruan selanjutnya disampaikan secara berjenjang sebagai bahan pertimbangan dalam Sidang Isbat tingkat nasional yang digelar Kementerian Agama di Jakarta pada hari yang sama.
Pemerintah melalui Sidang Isbat menetapkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan data hisab dan laporan rukyatul hilal dari berbagai titik pemantauan di Indonesia. Berdasarkan kriteria visibilitas hilal yang disepakati negara-negara MABIMS, posisi hilal dinyatakan belum memenuhi syarat sehingga bulan Sya’ban digenapkan menjadi 30 hari.
“Berdasarkan laporan dari seluruh titik rukyat dan hasil perhitungan astronomi, hilal belum terlihat dan belum memenuhi kriteria. Dengan demikian, 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026,” demikian keterangan resmi Kementerian Agama dalam konferensi pers.
Dengan penetapan tersebut, umat Islam di Indonesia melaksanakan salat Tarawih pada Rabu (18/2) malam dan mulai berpuasa pada Kamis (19/2). Kementerian Agama mengajak masyarakat menyambut Ramadhan dengan penuh kesiapan serta menjaga persatuan di tengah keberagaman metode penentuan awal bulan Hijriah.
Oleh: Sofyan Gani (contributor) / Riska Sabilah (editor)
Kunjungi berbagai website LDII
DPP, DPP, Bangkalan, Tanaroja, Gunung Kidul, Kotabaru, Bali, DIY, Jakpus, Jaksel, Jateng, Kudus, Semarang, Aceh, Babel, Balikpapan, Bandung, Banten, Banyuwangi, Batam, Batam, Bekasi, Bengkulu, Bontang, Cianjur, Clincing, Depok, Garut, Jabar, Jakarta, Jakbar, Jakut, Jambi, Jatim, Jayapura, Jember, Jepara, BEkasi, Blitar, Bogor, Cirebon, Kalbar, Kalsel, Kaltara, Kalteng, Karawang, Kediri, Kendari, Kepri, ogor, Bogor, Kutim, Lamongan, Lampung, Lamtim, Kaltim, Madiun, Magelang, Majaelngka, Maluku, Malut, Nabire, NTB, NTT, Pamekasan, Papua, Pabar, Pateng, Pemalang, Purbalingga, Purwokerto, Riau, Sampang, Sampit, Sidoarjo, Sukoharjo, Sulbar, Sulsel, Sultra, Sumbar, Sumsel, Sumut, Tanaban, Tangsel, Tanjung Jabung Barat, Tegal, Tulung Agung, Wonogiri, Minhaj, Nuansa, Sako SPN, Sleman, Tulang Bawang, Wali Barokah, Zoyazaneta, Sulteng, Kota Kediri
